|

Mencari
Puas mengecap, pertemuan, perkenalan, kemesraan, dan sudah ditemui kegelisahan tak tidur malam tak lalu makan
Bila dibayangkan, indahnya percintaan memanisi hidup bahagia tak terkata, sayang selalu di sekerat perjalanan impian jadi lumpuh disekat kemiskinan kemampuan yang tak ada
Penghujung terus tak tiba biar setiap musim cerita serupa silih berganti hingga terkejut oleh iman dari mimpi gelap, dari karangan puisi-puisi malap lalu bangkit mengusir umpan-umpan cinta yang masih tinggal
Cederamu Seketika Cederaku Selamanya
Janganlah sedih dan bergusar seketika hilang upaya itu bertaut luka pulihlah kekuatan kau kembali bermaharajalela meja tulismu menyesak ruangku aku pastinya terus terbiar dengan tubuh tanpa tangan mengharap kekayaan terdampar tetapi selepas jerih menunggu tubuh dingin terpaksa disorok mustahil disedari kehadiranku seraut wajah ini tiada cahaya sekadar dihias sepasang mata untuk menyaksi penderaan sepasang telinga untuk mendengar penghinaan hamburanmu hanya sepasang mulut yang giat melakukan segala kerja berkata-kata tetapi tidak menaip mungkin kerana itulah belum ada sebarang puisi rintihan dari kami mengisi ruang yang kaumiliki
Impian Pengemis
Selat Tebrau, telanilah daku ke dasar percintaan ombakmu supaya nanti akan subur sepohon puisi tanda kematianku yang terhias padanya buah perasaan bertangkai kata-kata asyik berulaskan syair kemaruk yang gila, syahdu, ajaib
Ombak Selat Tebrau mustahil kau berselera menelan dn menanam aku dan percintaanku apalah juadah padaku buat memikat sedang impian tergenggam pun kerap ternganga di atas telapak tangan yang tidak henti ternganga meminta-minta, berdoa-doa, ternanti-nanti
Sekali Berulang Lagi
Sekali aku bernyanyi dua kali aku terfikir untuk jadi bisu sekali aku berpuisi tiga kali lebih baik aku lelapkan mata sekali aku ciptakan cinta empat kali pula aku hangus di dalam bahangnya bila segala aku lakukan hanya sekali pasti tiada keyakinan mendatang semua minta diulang
Ah! takkan dapat kupenuhi sanjungan kerana aku diciptakan sekali dengan sekali itu usaha terlalu nipis untuk mencapai matlamat hidup
Takkan dapat kudaki puncak kebahagiaan cuma dengan sekali merancang begitu pun peluang yang sekali ini mencukupi bila kupenuhkan dengan menyenangkan hati sesama makhluk dan sekali aku diberi keghairahan bernyawa akan kuabadikan berkali-kali untukMu Oh, Tuhan!
Manisnya Ukhuwah
Bismillahirrahmanirrahim.
Pertemuan ... Suatu kurnian Tuhan ... Yang disertai dengan kerinduan dan kemesraan ... Mungkinkah ia akan berterusan ...?!!!
Kemesraan ... Suatu perasaan dalaman ... Yang mampu diserasikan ... Dengan sebuah keikhlasan ...
Keikhlasan... Juga dinamakan sebagai kejujuran ... Yang bisa menyuburkan keberkekalan ... Dalam suatu perhubungan yang dipaterikan ...
Perhubungan ... Ikatan yang menemukan insan ... Ikatan yang terkadang tidak mampu diertikan ... Ikatan cinta atau jalinan persahabatan ... Hanya hati yang dapat menentukan ...
Oh Tuhan ...!!! Walau apa jua ikatan yang Kau simpulkan ... Dalam hatiku sebagai insan yang punya perasaan ... Kupohon dalam sejuta harapan ... Agar Kau semaikan keredhaanMu sebagai ganjaran ... Atas penjalinan yang telah ditaqdirkan ...
Wahai Tuhan ...!!! Iringilah kedamaian dan ketenangan ... Dalam perhubungan insan ... Moga ia akan menatijahkan kebahagiaan ... Dan mendapat restu dariMu Tuhan ... Selama-lamanya berkekalan ...
Permainan Cinta
Menyayangi mu lebih dari Segalanya.. Mencintai mu lebih dari itu.. Mempercayai mu cukup dari itu..
Namun semuanya kau anggapnya sebagai Sebuah Permainan Cinta.. Sebuah permainan yang tidak boleh dibuat main..
Persoalan ini yang sering diajukan dalam diri.. Namun yang jawab, tiada ku pasti bahawa ianya Benar atau Dusta...
Cukup sudah jiwa ini terseska, dek Permainan Cinta mu.. Kini..,yang mangharap adalah Kebahgiaan dan Kegembiraan...
Tiada lagi Permainan Cinta dalam diri... Semuanya telah ku kuburkan dalam Memori Ku.. Tidak mahu di ingat kembali.. biarkan ia bersemadi di situ..
Yang pasti kini.., membiarkan kenangan lama.., mengubati Rindu....
Tinggal Memori
Sayangku, setelah aku kau miliki aku terasa bahagia namun bila cinta didustai aku terseksa..
sayangku, tak boleh kulupa gelara asmara yang tercipta kau dan aku kini hanya tinggal memori..
sayangku, disaat kuidamkan rindu kau mengucapkan selamat tinggal kinim benar kau pergi kini hilanglah arah ku....
sayangku, bara yang kugenggam kini baru terasa hangatnya hatiku terluka kau bahagia aku yang terpinggir kini hanya tinggal memori
Penantian
Penggalan Kisah Yang Menanti
berjalanlah
dalam pelupuk desah
yang merayap ditepi dinding hati yang merajai sepi
berjalanlah
demi sepenggal waktu
dan sedetik kisah
tertuang dalam denting yang berdetak
dan rintihan yang terukir
dalam detik yang menanti
kurajai sepi yang menepi
ditepi balutan belulang kisah kasihku
aku tak pernah terasingkan
walaupun terasing telah mengasingkanku
aku tak pernah terpuruk
walaupun keterpurukan telah memurukku
aku hanya memendang
tanpa keinginan untuk melihat
kosong memang,
tapi aku telah menemukan sesuatuku
kecil memang,
tapi dia yang menuntunku menemukan keindahan.

Lagu untuk kenangan lama
Lagi-lagikah, aku ingat rupamu yang dulu Sungai belah kasih mengalir tulus, tanpa deru memecah Semakin terpecah, kian waktu membelah
Aku rindu
Aliran air kan terus membawah, dan waktu berdarah-darah Semakin terpecah, lupakah?
Lagi-lagi, rupamu kawan, tersimpan Hati mematah, sebab sungai telah bererosi, dan tak mungkin waktu berhenti...
Mengapa aku tidak pergi saja sekarang menempuh salah satu jalan! Terbang! Si pungguk terbang! Cari gairah malam!
Mengapa aku tidak hilang hilang! dan tidak sesuatupun mau tahu dan peduli Biar saja gila. Biar saja jatuh. Menggelepar, dan akhirnya toh mati.
Aku buta mata, hilang suara, tuli bicara. Aku mati jiwa mati semua
cinta itu juga pecah, jatuh ....
Hancur total
Semua binasa
Peduli? Tiada! Tak juga mereka.
Asa itu apa.... asa itu dimana Hilang... asap melayang! Maumu apa? Menggapai bintang?
Dia jauh, coba kuraih secercah cahaya cuma bayangan cuma bayangan Sayapku pecah, si pungguk jatuh terbayang
Asa itu apa, asa itu dimana?
Si pungguk jatuh Tolonglah! Aku binasa jiwa Tolonglah! Aku hancur cinta Tolonglah!
Tak ada minat dengan udara, capai aku capai meraih khayal khayalan meracuniku sedikit demi sedikit meracuniku dengan iba yang dosisnya bertambah
Mereka tertawa
Aku?
Binasa.
Hilang semua, semua hilang ... total Selamat tinggal
Just as you
Seperti engkau menari-nari diiringi sangkakala suara-suara
seperti engkau melayang-layang diringi angin udara-udara
seperti engkau terbang menukik tarik larik manik-manik mencabik-cabik
Seperti engkau tidur terbaring hening
Kembali
sekarang kembalikah aku seperti masa-masa itu saat di mana yang ada cuman mata? Mata merasuk, menembus pikiran, terseret ke mimpi-mimpi
Kembalikah aku pada perasaan terlonjak dari dunia nyata berpijak pada impian gila dan terus saja meracun, racun semua!
Racun lah engkau itu, karena setiap malamku adalah malammu juga racun lah dirimu seutuhnya, karena berakar sudah peristiwa-peristiwa
siapa yang bermain? siapa yang mengendalikan permainan? siapa yang terdesak, terperanjat? siapa menang? siapa abu?
Akankah bisa terus melihat ke depan?
Kau akan temanikah ke dasar jurang bersama terjun ke biru
Atau kau akan pergi seperti bulan...
Untuk Cinta
mari kita menari, mari kita menyanyi, mari kita berlari! cintaku padamu sebesar dunia karena aku sudah lupa pada yang lalu begitu cepatnya seluruh isi duniaku sudah terganti
menarilah bersamaku menarilah kita ke aozora, duniaku yang sepi dan bisu menarilah kita ke segala impian, khayalan biru
marilah kita bersama-sama jalin cerita, jalin permainan yang tak pernah kau bosan memainkan marilah kita menulis nama kita di pasir putih marilah kita mengejar ombak di biru marilah kita pandang biru marilah kita merajut langit di sana angkasa hitam penuh bintang seperti kita yang tenggelam di keasyikan nada-nada di balik segala seperti kita tahu apa yang pasti seperti cinta yang kabur nada-nada di balik segala
marilah kita menyanyi sekali lagi, terhanyut di balik segala dalam keasyikan itu aku menemukan kamu kamu yang terhanyut di balik segala
cinta! cinta! marilah kau menari... cinta! cinta! tidurlah di balik segala, tidurlah diiringi segala doa karena kamu sekarang sudah semuanya
Karena
karena kita berdua amatir? (ataukah hanya satu?) karena kita berdua masing2 saling takut karena itu kita saling membuang pandang? karena ada sesuatu kah kita jadi seperti ini? karena pernah saling terlukakah? karena pernah kah masing-masing punya goresan? karena itukah kita tidak bisa saling memandang dengan segala? karena itukah kita tidak bisa membuka, membiarkan segala terbuka lagi? karena itukah kita segan membuka lembaran baru? (dan biarkan buku berdebu) karena cinta kah? adakah?
Cintaku
Cintaku, menari kau diiringi segala cintaku, menarilah cintaku terbaring di awan putih yang halus lembut cintaku nyenyak dalam ketenangan
jangan dekati cintaku! jangan dekati tidurnya jangan dekati kemasyukannya dalam alamnya
Tolong jangan bangunkan dia dari segala mimpi jangan sadarkan dia dari surga biarkan hanyut dalam hangat
Cintaku, tersenyumlah dalam lelapmu...
Hatiku
"tidak cantik!" khayalan lagi-lagi menusuk menusuk lagi sakit lagi "bodoh! sok tahu! goblok!" serangan dari segala arah! modalku apa? hanya mata? pandangan tidak mungkin bisa cukup hanya dengan pandangan sekitar detikan waktu cepat buat lupa juga kamu juga bisa lupa tidak peduli kalau aku tidak akan pernah bisa lupa tidak peduli kalau aku bisa teriris di balik ringis bisa tertawa di balik duka karena topeng-topeng berusaha menutupi bobrokan diri dan keadaan diri yang sudah benar-benar parah karena mental yang sudah sekarat karena cinta yang hampir habis terkikis untuk mendekat saja terasa sangat bahaya hanya satu pandangan mata saja bisa langsung luka karena sudah tidak bisa apa-apa, karena keadaan diri yang hampir punah karena kepercayaan diri yang terkikis terus menerus serangan sedikit sudah membuat kejatuhan yang sangat mendalam
dan engkau dengan sangat mudahnya muncul begitu saja di depanku, menawarkan madu tangan kiri? tangan kanan?
jangan tawari aku permainan yang aku tahu aku akan kalah jangan tawari aku senyuman yang aku tahu tidak bisa dikuasai jangan tawari aku mimpi yang aku tahu aku tidak bisa miliki jangan tawari aku hal yang ujung-ujungnya sudah terlihat
terus-menerus jatuh, dan terus menerus berdarah, dan lagi-lagi air mata hati yang sangat mudah patah sudah terus dilibas, padahal cuma hal-hal biasa hati yang tidak bisa menerima semua, hati yang terlalu mendendam, hati yang terlalu membenci, hati yang terus menerus berusaha untuk menjadi sesuatu yang takkan pernah terjadi apakah salah hanya dengan melihat dan jatuh? apakah salah dengan jatuh itu aku berdarah lagi?
hati perlukah dielus, dilembuti dengan hal-hal yang tumpul dan biasa? sementara dambaan terus menggila, dambaan pada ketajaman kehidupan dambaan akan terluka....
kau?
Mimpi (lagi?)
impianku yang sekarang jadi tujuan adalah kau, semua, segala, segala betapa hidupmu suatu cerita yang jadi nyata kehadiranmu jadi suatu tanda tanya untuk sebuah dunia yang sepi dan bisu mewarnai segala kisah, mewarnai segala derap langkah debur tawa dan segala tentang kau yang kabur karena gembira terlalu riang segala sampai serasa melayang
berada di sisimu adalah impian yang kenyataan
cintaku, marilah berbagi madu kita akan bersama menenun drama dan peranannya dibagi dua, kau dan aku kita akan bersama membuai asmara jika malam tiba, bukanlah pungguk yang bersuara memanggil bulan yang tak kunjung datang bukanlah hati yang terus menerus mengasihani diri tanpa alasan jelas bukanlah orang yang kabur lebur dari kenyataan, berusaha bermain peran terus menerus tanpa berkesudahan
cintaku, jika memang kita bisa bersatu, apa yang harus aku katakan kepada Tuhan? karena seluruh anugrah tiada arti jika dibanding kau jika memang kau bisa berada di sisiku, membagi aozora, mimpi bisu apa yang harus aku jelaskan kepada dunia?
karena kau tidak bisa dijelaskan karena kau tidak bisa diterangkan karena kau tidak bisa didefinisikan
cintaku, jika memang kita adalah takdir, mengapa begitu indah? jika memang kita bisa saling membagi luka dan darah jika memang kita bisa saling melukai dan mengobati jika memang kita bisa saling bercinta, bermain permainan yang kau paling suka, jika memang kita adalah satu yang terbelah,
kaukah?
bayangku yang hilang? sang bulan? cintaku, seandainya memang begitu lalu mengapa bening-bening senja sembilu perih di dada
kupuja kau tak peduli sebaliknya, karena aku terbiasa dengan tangan sebelah yang melambai selalu ribuan jarak di antara kan ku tak ambil peduli dengan apa kukabarkan engkau pada dunia? " rinduku pada bulanku sudah menirus, kurus, letih dan sedih " dengan pulau apakah harus kusamakan kau pada mereka? tiada pulau seindah pulaumu...
kau impianku telah jatuh ke dunia nyata, bermainlah di lapanganku! kau pesonaku telah muncul di hadapan, selamatkan aku dari ketenggelamanku!
kekagumanku tiada akhir
MERINDUMerindu khayal aku padamu memeluk-memeluk-memeluk-memeluk-memeluk merindu impian aku padamu mencium-mencium-mencium-mencium-mencium
gairah sebatas mata!
Hendak kubakar kau dengan gelora itu meraba-menikmati-asmara
"Kau jua tidak merasa? udara kian gerah.."
Hendak kuperkosa bayangmu tergeletak pasrah penuh cinta?
--Seperti aku yang selalu terpana pada binar mata--
Cinta khayalan
Merintih di antara semak-semak duri, luka kita buka berkali-kali
Berbisik di antara seribu bahasa, tak pernah mengerti jua
Butuh apa?
Di bukit itu, sejauh mata memandang ialah kemegahan bintang dan bulan - gelap bukan halang rintang menghadang - Sudah kusiapkan, kasih, jeritan beribu puisi dan sumpah serapah untuk membuang segala gelisah cari cerah supaya kau tahu
Tapi mengapa jua bisu?
Menggelepar, sungai berdarah-darah kena luka rinduan hati
Terlalu mudah kau terima cintaku, aku mati beku
|
 |
|
|
|  |
|

Arca Cinta (Untuk Ibuku)
Bila semalam mengungkit kisah hari ini ingatan tak dapat lelap kerana padanya bintang padanya suria cahaya emas bergemerlapan jelmaan seribu keindahan campuran kebal bersadur iman.
Mata kepala menyaksikan keluhuran budi kegigihan menepis godaan demi sebuah kemajuan menampan bayangan sayu kenangan tersekat di sanubari angin berseru dalam silu, "Perempuan itu tak dapat dibeli di mana-mana"
Biarkan kabar terpotret menjadi garisan permulaan larianku moga terkejar jua impian yang terdampar demi dorongan cinta di awangan ini arca itu tetap unggul di jiwa sampai mati kasih menjadi rahsia cuma antologi doa dan amalan menanti di syurga andai tak terjamah arca cinta itu semasa hayatku.
Cuma Rekaan
Hidup bukanlah hiburan terbit dari irama muzik pembenam tangis bingit mengeringkan air mata tanpa menghargai esakan tidak berguna esakan itu bukan hasil seni.
Hidup adalah tangisan di celah medan perlumbaan bas mini yang terjunam jauh di hati menyembunyikan sedu tidak berguna sedu itu bukan nilai sastera.
Maka berterusanlah hidup dipimpin tangisan esakan berlanjutan dalam senyap sedu menahan nafas bersuara tanpa nyawa sudah sekian lali memerhati suka bertukar duka sudah kebiasaan pengemis berpondok bawah jambatan atau si buta menyanyi lagu belas ehsan.
Telah direka melodi itu cukup lazat buta mengenyangkan perut sendiri
Warkah Selepas Itu
Kalau warkahku terdahulu selamat menjejaki pangkuanmu mengertilah mengapa begitu rangkap, ayat, huruf, kucar kacir ya, itulah tulisan terakhir aku akan berhenti membentuk tulisan serupa itu selepas ini
Tetap mengharap kau sudi menemani rempuh onak dunia membantu bebas dari belenggu kepungan kesepian mendorong dan melapangkan jalan kembali ke sisi Ilahi
Telah puas mencuba selama ini menayangkan tulisan serupa kepada ramai orang tetapi mereka tidak tahu di mana ada dorongan ajaib kau, aku, kita siapa di mana sehingga muncul pertemuan tidak pernah kita suratkan ternyata Ilahi tidak melupakan alamat untuk mengirim rahmat
DI KUBURAN NENEK
Tersula pedih rasa di dada kuburan merah di perut kubur hati.
Radakan rugi menatap rindu sama tertanam kesal sama terbenam mengheret memenggal duka yang tumbang dengan yassin yang runtuh dengan talkin menimbunkan sebuah ragu.
Tercabutkah ampun dari dosa teruraikah halal dari hutang di stesen semadian nenek.
Cinta Kita (Yang Buta)
Cinta yang buta datang tanpa diundang menjenguk sanubari kosong resahlah aku digoda wangi bunga kerana kekasih longkah dari pelukan dan hati meronta-ronta lari dari rindu mencucuk.
Kerap mimpi menendang tidur tak mahu berpisah dari rindu.
Lalu aku kumpulkan iman-iman yang tersisih merangkak ke bawah lindungan Allah kerana cuma doa dapat merapatkan renggang semata-mata patuh pada cinta yang buta.
Kala Siksaan Mendera
Saat tak ada saat di mana bibirku terkatup; saat tak ada saat di mana mataku kering Kala seribu jarum menusuk punggungku Kala seribu algojo mendera dengan cambuk; sesosok wajah muncul di depan mataku, wajah orang yang kucintai itu; wajah orang yang membuat aku disiksa; dia tersenyum, sungguh! Dia tersenyum tanpa belas kasihan, menatap penderitaan yang kualami dengan mata bersinar..... Kalau saja kumiliki satu kesempatan untuk hidup lagi, kalau aku hidup tanpa cinta, sayang, hidupku hanya akan ditujukan untuk membalas dendam padamu.....
Doa
Malam telah larut, Mentari termakan gelap tak tersisa, Kubersihkan kotoran dosa dengan air anugrahNya, Dalam kamar penuh cerita aku telah bersiap, Menghadap Tuhanku Sang Pencipta, Kubuka semua isi hatiku.......... Dengan gemetar bibirku bercakap, Oh Tuhanku, Engkau sungguh agung, Dalam ketiakMu aku berteduh, Dalam senyumMu aku terhibur, Dalam kuasaMu aku bertahan......., Dari segala cobaan yang menunggu untuk menerkamku, Dari segala sedih yang selalu menggodaku, Dari segala hunjaman pisau kehidupan yang keterima, Oh Tuhanku jangan tinggalkanku sendiri berkelana, Menyusuri jalan hidup tanpa terhenti....., Dekap terus aku dalam kehangatan nafasMu, Saat ini aku lemah...,terkulai...,tak berdaya....., Pegang aku Tuhan janganlah aku terjatuh, Dan ampunilah segala dosaku...., Air mataku banjir membasahi wajahku... Karena aku tahu dan merasakan, Tuhan datang dan tersenyum padaKu, Terakhir hanya dapat kukatakan AMIN
Hadirlah Matahariku
Mengapa tak ada sinar mentari Hanya hujan yang terus turun dihati Hadirlah wahai mentari Jadikanlah hujan ini pelangi
Mengapa masih bersembunyi Hatiku dingin dan sepi Tak ada lidah yang bernyanyi Tak ada jemari yang menari
Jika kau hadir nanti Bawalah serta seorang bidadari Untuk bertahta di hati Hingga tak lagi sunyi
Tampakkanlah dirimu matahariku Hadirkan pelangi di relung hatiku Agar lidah tak lagi membisu Agar jemari tak lagi membeku
Sang Camar
Bahagianya dikau berterbangan bebas di angkasa raya kemana jua kau pergi..tiada siapa yang menghalang ku ingin menjadi sepertimu... tapi aku tidak mampu.. meronda seluruh pelusuk alam melihat keindahan ciptaanNYA.. bertuah sungguh dirimu wahai sang camar kau berarak membelah mega-mega nan indah.. membelah awan nan biru walau sebesar mana badai mendatang... kau tetap utuh dengan semangatmu... walau ke mana dikau pergi.. aku pasti....dan terus pasti... kau akan kembali...
Aduhai nasib ku
Aduhai nasib ku, Dalam nada gerimis, Izinkan ku meluahkan rasa, Yang selama ini terbuku didada ini bukan niatku untuk meminta belas kasihan tapi aku ingin satu keadilan aku tahu, selama ini kau jujur menyintaiku tapi, siapa aku untuk semua itu bukan aku nak hendak kembalikan memori lama cuma, inginkan satu kepastian tentang apa yang terjadi antara kita selama ini
Gita Cinta
Indah kala kau rangkul bahagiaku Bersama kita lalui saat terindah
Berdua kita menggapai cinta Yang memiliki beribu makna dan maaf Kau sinari mimpiku yang suram Menjadi terang dalam gelapku
Tak ingin kulupa smua yang tlah lalu Sgala yang indah yang pernah kita rasakan Tak ingin ku terjaga dari mimpi ini Hingga bumi berhenti berputar
SEBAIT KISAH CINTA UNTUKMU
Terpenjara sepi
Ditepi pengasingan jiwa
Dari roh yang terasing
Dan arwah kasih
Kusajakkan
Sebait kisah cinta
Menuju perjalanan abadi
Sendu
Letih, namun masih kucoba untuk merangkak dengan sisa2 nafas yang ada Setelah berjalan begitu jauh, tak mungkin lagi aku kembali Jejak2 kaki telah lama terhapus oleh badai anginmu dan kini... aku tersesat
Rapuh, bahkan dengan satu sentuhan kelingkingmu aku terjengkang Kemana kesombongan yang selama ini selalu mengikuti telah pergi? Pada malam jahanam ini aku memaki Pada bulan yang bopeng itu aku lampiaskan marah, Marah akan semua kesia-sian yang terjadi, Marah akan kebodohan-kebodohan yang sama, Marah akan... apa adanya diriku...
Malam semakin senyap Dan diriku semakin tenggelam...
Tuhan... pada malam ini telah aku saksikan bahwa engkau memang ada! Entah apa yang terjadi... kau datang dengan penuh misteri Telah kau buka mata hati ini Sehingga kini ku menyadari Harusnya tak perlu jauh2 mencari sebab, ternyata kau ada di sini selalu di sini...
Malam semakin memudar seiring embun Butir2 fajar perlahan datang bagai lentera, dipenuhinya semesta hati ini dengan cahayanya Dalam kedangkalan alam sadarku, aku merasakan dejavu Hari kembali terang Hujan kembali turun Dan aku kembali berjalan
Cinta
Tolong, cintai saja aku pandangi saja diriku Temui saja! Cukup sepatah kata! Aku akan mengumbar senyuman, karena kau segalanya Aku jatuh binasa jika kau hilang Tolong, sekali ini datanglah, jenguklah, lihat saja dan kau boleh pergi Aku akan melihatmu, saja... hendak menyusul tapi tak berani Aku ingin masuk ke sana, menemui engkau di hatimu Let me in! Let me in your heart! What can I do to make you love me? Nothing? Aku hendak terbang ke aozora Melarikan diri dari kau, karena kau segalanya Ratusan hari! Ribuan jam! Jutaan detik! Dan yang kudapat cuma sapaan. Hendak kuraih secercah senyuman, lalu sentuhan. Hendak kuraba cinta, tapi aku ingin cintamu Wanita? Tolong! Aku hendak jatuh dan menangis Aku ingin kau Aku ingin kau Tapi nasib berkata lain Beranjak dewasalah! Hindari bahaya! Mari kita terbang ke aozora! Nikmati saja
Tolong
sepi! sepi! sepi! seorang diri di gurun, dingin, dingin terdampar di keheningan tiada akhir gelisah gelisah gelisah kesepian di tengah keramaian sepi sepi sepi ditolak di tengah sorak sorai ditolak di tengah kegembiraan ditolak di tengah segala "aneh" ditolak di tengah segala "aneh" "aneh" "aneh" ditolak di tengah segala tolong tolong sepi menekan mendesak tolong tidak mau sendirian tidak mau sendirian tidak mau sendirian di dalam rahim yang hangat, sendirian, itukah engkau? di kehangatan walaupun tersambung satu darah, satu aliran kehidupan itukah engkau dalam segala sepi? ditolak ditengah kehangatan ditolak di tengah impian sepi! dikau! wahai berteriak padamu seperti berteriak pada bulan, pungguk menjerit jeritan sayatan untuk keheningan malam raungan lolongan untuk yang buta wahai engkau! mencintaimu seperti mencintai bulan tiada respon, tiada rangsangan "aneh" pungguk melolong tiada akhir sebab engkau kah? mencintaimu seperti mencintai bulan mencintaimu seperti mencintai keheningan sepi wahai! aku sendiri sepi di tengah segala kesepian hening di antara segala keheningan diam di tengah kediaman tiada akhir wahai engkau! mencintaimu seperti mencintai bulan, tiada tanggapan seperti melambai pada bintang, tiada balasan hatiku.. hatiku tiada terima kasih "aneh" "tanya sendiri, jawab sendiri" "geek" gecko! gecko! gecko! sendiri di tengah segala sepi wahai engkau! mencintaimu seperti mencintai khayalan begitu dekat di mata, milyaran cahaya di hati
Hangat
hangatnya di balik selimut, hangat manis hangatnya kopi panas di pagi buta, masih berselimutkan cinta manis nian hangatnya air panas, mandi di tengah kegigilan manis nian rupanya
hangat.. hangat... hangatnya makanan yang dihangatkan di microwave hangatnya mentari yang menyusup di sela baju hangatnya keakraban di antara kerabat hangatnya cinta antara dua kekasih hangatnya ranjang oleh permainan
hangat.. hangat... hangatnya hati dengan mengingat kau hangatnya hati dengan mengkhayal kau hangatnya hati dengan menangisi kau hangatnya hati dengan merindu kau
musikku iramaku yang hangat oleh pikiran-pikiran kau alunan laguku, birama detak jantungku yang mengikuti desah kau mengikuti hangatnya kau, hangatnya hidupmu, iringan menatap tarianmu, menghayati setiap senyummu hangat
hangatnya kau, impianku dan cita-citaku kasih... kutunggu
Mimpi (lagi?)impianku yang sekarang jadi tujuan adalah kau, semua, segala, segala betapa hidupmu suatu cerita yang jadi nyata kehadiranmu jadi suatu tanda tanya untuk sebuah dunia yang sepi dan bisu mewarnai segala kisah, mewarnai segala derap langkah debur tawa dan segala tentang kau yang kabur karena gembira terlalu riang segala sampai serasa melayang
berada di sisimu adalah impian yang kenyataan
cintaku, marilah berbagi madu kita akan bersama menenun drama dan peranannya dibagi dua, kau dan aku kita akan bersama membuai asmara jika malam tiba, bukanlah pungguk yang bersuara memanggil bulan yang tak kunjung datang bukanlah hati yang terus menerus mengasihani diri tanpa alasan jelas bukanlah orang yang kabur lebur dari kenyataan, berusaha bermain peran terus menerus tanpa berkesudahan
cintaku, jika memang kita bisa bersatu, apa yang harus aku katakan kepada Tuhan? karena seluruh anugrah tiada arti jika dibanding kau jika memang kau bisa berada di sisiku, membagi aozora, mimpi bisu apa yang harus aku jelaskan kepada dunia?
karena kau tidak bisa dijelaskan karena kau tidak bisa diterangkan karena kau tidak bisa didefinisikan
cintaku, jika memang kita adalah takdir, mengapa begitu indah? jika memang kita bisa saling membagi luka dan darah jika memang kita bisa saling melukai dan mengobati jika memang kita bisa saling bercinta, bermain permainan yang kau paling suka, jika memang kita adalah satu yang terbelah,
kaukah?
bayangku yang hilang? sang bulan? cintaku, seandainya memang begitu lalu mengapa bening-bening senja sembilu perih di dada
kupuja kau tak peduli sebaliknya, karena aku terbiasa dengan tangan sebelah yang melambai selalu ribuan jarak di antara kan ku tak ambil peduli dengan apa kukabarkan engkau pada dunia? " rinduku pada bulanku sudah menirus, kurus, letih dan sedih " dengan pulau apakah harus kusamakan kau pada mereka? tiada pulau seindah pulaumu...
kau impianku telah jatuh ke dunia nyata, bermainlah di lapanganku! kau pesonaku telah muncul di hadapan, selamatkan aku dari ketenggelamanku!
kekagumanku tiada akhir
|
 |
|
|